Masa Tua : Kebijaksanaan atau Kebodohan

photo source : healthwatchbury

Ada banyak kegelisahan di masa tua, salah satunya kesengsaraan yang tak dimiliki kala muda. Lebih tepatnya seseorang tidak cukup hebat membuat dirinya sengsara. Orang selalu mengatakan banyak sekali omong kosong bahwa kita harus menikmati masa muda dengan bersenang-senang, mengumpulkan banyak botol vodka dan menimbunnya di garasi rumah atau pantry dekat ruang tidur atau habiskanlah waktu untuk berjalan berkelana bersahabat dengan alam juga mengasihi satwa. Benar soal mengasihi dan binatang dan alam bahwa setidaknya mereka memberi tempat tinggal yang sesungguhnya, menyediakan bahan untuk diolah untuk meneruskan hidup juga tidak lupa adalah masalah yang sesungguhnya. Setidaknya aku ingin berterimakasih terutama untuk menghadirkan medan yang istimewa untuk orang yang biasa saja dan segudang masalah yang membuat gila di dalamnya. Ini membuatku sedikit tampak sepektakuler.

Aku tahu, sedikit sepaktakuler adalah kata-kata bodoh. Tapi lebih baik kita kembali pada rubah dan sapi betina, bahwa aku tak menyesali mendapatkan pemandangan kamar paling buruk dalam sejarah dimana hanya ada buku-buku yang sekarangpun penampilannya sudah tak semenarik dulu, atau mungkin buku-buku itu tak pernah menarik tapi setidaknya di situlah aku mendapatkan julukan untuk hari-hari yang kujalani dengan ‘monoton’. Aku yang tak banyak berekspresi dan buku-buku di rak reot yang menjadi paket datar dalam sejarah yang yang telah menuliskan namaku sebagai “the wierd and the dork indoor girl”. Aku bersyukur setidaknya telah menyiapkan nama yang mungkin akan berguna saat kematianku nanti, pada batu nisan yang mengenangku. Tenanglah, berbicara tentang harapan dalam zonaku tidak akan jauh beda dengan membicarakan omong kosong. Biarkan aku sedikit lega dengan omong kosongku sendiri.

Pagi itu, aku hidup kembali . Dengan nuansa yang klasik; meminum secangkir teh sambil membaca majalah dengan harapan untuk tak membeli apapun setelah banyaknya deretan promosi pakaian yang sedang trend kala itu. Menurutku di musim gugur sekarang aku hanya memerlukan payung dan sweater tebal saat musim dingin nanti. Aku tak begitu perlu baju pesta penuh pernak-pernik. Tak ada yang bisa aku rayakan dalam hidupku, selain perayaan untuk terakhir kalinya merayakan sebuah kehilangan dari ketidakbijaksanaan. Aku tahu, terlalu sok tahu saat aku mengatakan itulah terakhir kalinya saat aku masih menyimpan banyak kebodohan dan tentu saja saat aku masih mempertimbangkan rasaku untuk memiliki aku akan terus merasa kehilangan. Tunggu, aku hanya sedang mencoba mencairkan dingin yang membeku dengan teh panas yang sebentar lagi akan kutengguk.

Tiba-tiba sekali, Christ dan Louisa datang. Mereka adalah anak dan menantuku. Di kanan kirinya dengan tangan yang saling menggengam ada cucuku Vallens Nollan dan Brian Nollan. Mereka adalah kembar identik. Namun Christ dan Lou tak ingin membuatnya terlalu mirip terutama saat membawanya kepadaku. Mereka tak bisa pungkiri bahwa aku akan mempertanyakan keanehan mengapa Christ dan Lou menggandeng sebuah cermin yang memiliki kaki. Saat dua anak laki-laki yang kira-kira berusia balita itu berlari ke arahku, mereka kemudian memelukku. Entah mengapa, aku kembali merasakan kesedihan, entah mengapa aku kembali merasakan kehilangan. Aku bertanya, aku bahkan belum sempat memberikan cinta, dan apa yang aku lakukan adalah menampik perasaan cinta.

Pagi itu pula, Christ dan Lou mengajakku mengobrol, kedua cucuku yang asik bermain tak memperhatikan kami. “Ayah, aku pikir kita bisa mengunjungi makam Ibu satu pekan lagi dan untuk satu pekan yang akan datang kami akan menginap. Lou telah mengambil cuti dan aku dapat mengerjakan pekerjaanku di sini.” Seketika aku menangis. Saat dulu aku benar-benar tidak ingin melihat anak ini ada , aku mungkin tidak akan mendapatkan partner untuk menikmati teh chamomile di pagi-pagi cerah seperti ini. Christ tak ku sangka memiliki kisah sepertiku. Menghamili perempuan yang tak begitu dicintainya, namun tetap memanusiakan wanitanya. Sedangkan apa yang kulakukan pada Gabriella adalah membunuh orang yang aku cintai karena perasaan tak siap.

Kalian boleh menghujatku dan mempertanyakan apakah aku masih berada dalam tubuh seorang pria. Aku membuat sebuah kesalahan bukan karena aku bodoh, namun kekuatan, arogansi dan ego saat ini menjelma menjadi kebodohan yang menghabisi usia tuaku. Dimana saat seseorang anak laki-lakiku adalah pria yang pintar yang secara nyata menjadi pembandingku dan mau tak mau kebodohan itu menjadi sangat realistis untuk kembali dibandingkan. Ia sangat mencintai ibunya, tak perlu punya kenangan jika seseorang yang memiliki kenangan justru membunuhnya.

Pagi itu, ku hitung bukan lagi secangkir teh. Ada dua cangkir teh dan segelas cokelat panas. Menantuku Lou tak menyukai teh, bahkan ia suka pusing setelah minum teh. Aku yang tak menyukai cokelat panas, tak punya alasan selain aku belum pernah mencobanya. Kami membicarakan hal lain. Christ memintaiku saran, bajingan sekali anak ini. Ia begitu sangat mengujiku. Ia tahu aku bukanlah ayah yang baik, 26 tahun ia hidup denganku dan aku sangat payah dalam menasehatinya bahkan saat ia memakan sosis saat buang air besar. Aku tak ingin memberikannya saran. Meskipun ia memintanya padaku. Aku sudah kelewat bodoh, dan ia kelewat pintar. Aku tidak sedang memuji otaknya, aku kagum akan sikapnya. Aku menginginkan ia lebih sakit hati dari kurenggut orang yang nantinya mungkin akan sangat mengasihinya. Terkadang aku merasa bahwa seorang anak datang pada orangtua bukan karena orangtua selalu benar, lagipula siapa yang bilang begitu? Terkadang mereka hanya mencoba mempraktikkan tradisi mereka, aku tahu dunia tak berjalan mundur pikiran mereka senantiasa lebih situasional dengan saat ini, atau terkadang mereka rindu. Apakah berlebihan ?

Aku dan Christ adalah sama. Sama-sama pria. Hanya saja aku bukanlah pria sejati. Dan sebenarnya itu membuat kami sangat berbeda. Seseorang di masa mudanya akan berpikir bahwa sangat penting jika kita mendengarkan apa yang dikatakan orang yang usianya jauh di atas kita, menaati kata-katanya adalah sebuah bakti. Namun Christ tidak harus demikian. Ia juga telah menjadi sepertiku, meskipun ia tak lebih tua dariku. Pertumbuhan dan perkembangan Nollan kecil memberiku sebuah catatan bahwa mereka ditangani dengan baik. Bahkan senyum tulus dari Lou ikut menjadi catatan yang baik oleh orangtua yang tak seumuran denganku tadi. Aku kini tahu bedanya. Ada beberapa emosi yang tak dapat kutangani sewaktu seusiannya, Christ lebih banyak menghadapi masalah, dan pria malang itu lebih banyak terluka. Ia lebih tau bagaimana caranya untuk tidak menangisi kepergian meskipun ia ingin.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started