Significant Angle

Gajah yang besar dapat menindas semut yang kecil. Lalu apa hebatnya gajah yang besar itu ? Apakah pertanyaan itu seperti selayaknya menaruh sentimen terhadap gajah yang besar ? Kira-kira untuk menjawabnya, formulasi apakah yang paling sesuai? Marilah berpikir sebagai langkah panjang kebijaksanaan daripada hanya merenungkan hal-hal yang akan membawa kita pada tindakan meminggirkan logika. Ya, logika yang marjinal. Kita terbiasa mengasihani peminta dan membayar kebaikan pemberi dengan memberikan apersepsi paradokskal. Namun kita lupa berbaik sangka, tidak hanya pada pemberi namun juga hal-hal baik yang mereka berikan.


Hal-hal yang biasanya ditulis dalam buku catatan adalah perihal yang berkesan. Namun terlalu banyak kesedihan yang mendominasi separuh halaman kertas yang telah menguning karena tidak adanya sentuhan cerita bahagia dari penulisnya. Apakah itu adil ? Apakah kesedihan menjadi hal yang paling dekat dengan sebuah kesan ? itulah reliabilitas yang gagal dan sama persis dengan apersepsi yang dilabelkan oleh peminta kepada pemberi. Peminta tidak pernah mendukung dan mengaplikasikan faktor alat pengukur bahkan tidak merumuskannya untuk sengaja meniadakan asesmen baik perihal pemberi.


Ternyata fakta bahwasanya merendahkan sesuatu yang penuh dengan kontur disegani juga kerap kali menjadi persoalan. Tidak hanya sesuatu yang kecil dan asimetris yang dipersoalkan namun juga sesuatu yang besar dan simetris. Seperti telah banyak disonansi di segala sisi yang menyebabkan sisi lainnya tertutupi dan seakan tersumbat untuk menggaduh. Hal ini turut menjadi suatu reinforcement terhadap situasi penggulingan yang penuh dengan permainan roller coaster di dalamnya. Ada banyak sekali orang-orang kaya yang juga menjadi badut mereka yang sehari-hari dalam hidupnya berenang di jalanan aspal. Orang-orang kaya itu sempat menjadi bodoh dan bahan tertawaan.


Apakah kemudian ada keberpihakan untuk mereka yang gemar menganeksasi uang jerih payah orang lain dan mencoba membuang kotorannya di sembarang tempat ? Saya tidak sedang memuji tai yang mereka keluarkan dari lubang kotoran yang sudah pasti nista itu. Saya hanya ingin, bahwa kita sama-sama memahami bahwa setiap manusia yang memiliki sisi mulia dan kebaikan dalam hatinya tidak layak untuk dikoyak dan dihancurkan keinginannya dalam berbuat baik lagi mulia itu . Jika begitu yang kita lakukan selama ini , maka itu adalah sebuah peringatan yang garis batasnya perlu diperjelas dan dipertegas kembali. Kita tidak memakan otak dari kepala kita sendiri.


Adakah kita hanya memikirkan dan bergulir pada postulat yang dibuat-buat dari peminta ? Bahwa apapun yang kita tuliskan akan mempengaruhi orang lain, sehingga akan cukup meyakinkan apabila kita memakan seseorang dengan memasarkan penderitaan. Lalu akankah kita bertanya kembali ke mana arah keberpihakannya ? Kita tidak pernah sedikitpun berbicara perihal adakah lokomosinya. Maka hanya seputar kemungkinan-kemungkinan saja yang kita pelajari dari air mata palsu dan selalu mendukung pertanyaan soal keberpihakan yang memiliki tendensi kepada mereka peminta itu. Sekali lagi tidak ada yang berusaha didegradasi terhadap isu itu atau tidak ada penggulingan, penjatuhan maupun penistaan karakter. Tidak ada sejarah di dalam karakter itu sehingga tidak ada yang menggiringnya pada opini itu.


Tidak ada yang dihakimi dalam konteks ini. Tidak ada penghukuman dalam hal yang dilihat sebagai keberpihakan ini. Tidak ada meja hijau yang dipersiapkan. Atau tidak akan mungkin sengaja diletakkan palu di atas meja hijau itu. Tidak pula menghadirkan referent power untuk menganiyaya peminta. Ini adalah sikut yang tidak bergerak, sikut yang netral saya bilang. Jangan pernah lelah untuk memahami kebaikan dan kemuliaan hati seseorang sekalipun itu sulit. Namun bantu mereka untuk tidak menyerah dalam mengupayakan kebaikan dan kemuliaan itu sekalipun suatu saat mereka akan kembali pada wujud aslinya yang lapar, yang tidak kooperatif, setidaknya mereka tidak akan sangat menyesal telah melakukan sesuatu yang mulia sekalipun itu juga hanya sekali sepanjang hidupnya. Satu lembar terakhir adalah kesedihan itu tidak berkesan.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started