IF YOU HAVE BROKEN YOU DON’T HAVE TO STAY BROKEN

Photo sources : klubwanita.com

Banyak waktu saya terbuang yang saya yakin apa yang pernah saya katakan dulu adalah bualan. Kurang lebih selama dua bulan lamanya, saya menyekap logika pada saku yang tidak pernah saya beri kancing. Sehingga sudah barang pasti logika itu mati karena dibunuh secara sengaja. Persis selama itu juga, saya terlalu menikmati kebodohan dan juga kenaifan. Saya tidak lagi pada kesepakatan untuk mempertahankan akal sehat.


Katakanlah saya tidak pernah memakan buah apel dengan madu, dan saya terbiasa menikmati nanas yang masih sangat muda ditambah dengan semangkuk kecap. Maka saya tidak bisa menyalahkan diri tentang keberpihakan saya terhadap apel dengan madu itu hanya karena saya sangat menikmatinya. Saya lupa ada peristiwa memaksakan diri dan menghibur diri saat saya harus memakan nanas yang asam dengan kecap yang manis itu sebelum pada akhirnya ada kata terbiasa menikmati nanas dengan semangkuk kecap yang terlihat lebih elegan dan tanpa paksaan.


Saya telah terbiasa mendapatkan banyak kejutan dari orang-orang terdekat. Mereka teramat terbiasa juga dalam mempersiapkan segala sesuatunya dalam hidup saya. Sahabat yang baik, mengejutkan saya dengan sikap miskin keberpihakan, menjadikan saya manusia tanpa kaki dan meminta saya menyadari bahwa itu adalah kekurangan yang saya miliki. Laki-laki yang kerap kali saya berikan perhatian, memberikan beberapa lembar kertas di tangannya yang tidak lama setelah kepergiannya saya membaca “LUNAS DAN AKU TIDAK LAGI BUTUH PERHATIANMU” . Maka seketika itu, saya benar-benar kehilangan kedua kaki yang saya miliki dan seakan saya tidak membutuhkan perhatian siapapun lagi.


Saya tidak percaya bahwa di tempat saya terbangun saat ini, saya melihat laki-laki itu lagi. Itu membuat saya seketika mengerutkan kening. “Bukankah katanya saya sudah melunasi semuanya?” . Laki-laki itu masih setia di depan saya, mungkin sepenuhnya menunggu saya benar-benar terbangun. Tidak lama kemudian, ia kembali menyodori saya kali ini dengan selembar kertas yang bertuliskan “ AKU SALAH TELAH MEMBAYARNYA DENGAN UANG, SEHARUSNYA BUKAN UANG. TAPI KAMU TIDAK DAPAT MENGGEMBALIKANNYA LAGI.”


Saya mencoba tidur kembali, meski kali ini saya kembali terbangun. Saya mengingat satu hal, bahwa saya memang memiliki hutang padanya. Waktu itu saya merasa kesepian dan saya tidak mungkin meneguk vodka karena dokter sama sekali tidak menyarankan itu sebagai teman keputusasaan yang saya alami. Diam-diam hati saya mengundang seseorang, seseorang yang saya undang karena saya butuh dicintai dan bahwa saya sangat lelah dengan kalimat-kalimat merendahkan yang saya lontarkan pada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan pernah menjadi pantas untuk orang lain. Saya menjamu kehadirannya. Hingga pada akhirnya saya dan laki-laki itu sama-sama melucuti kewarasan satu sama lain. Maka sudah tidak ada lagi akal yang menuntut dan memberi syarat.


Pagi harinya laki-laki itu memberitahu saya, mendadak dia harus menjadi orang baik dan harus mengakhiri kegilaannya. Entah, itu terdengar bukan yang sebenarnya. Saya pun menjadi orang naif di kesempatan itu. Saya merelakan kepergiannya meskipun di lubuk hati terdalam saya menginginkannya untuk tetap tinggal bahkan ketika saya tahu, dia lebih brutal dari pada satu tegukan vodka yang seharusnya saya minum di malam itu. Setidaknya saya akan mati lebih cepat dan bukan mendapatkan sakit yang jauh lebih parah seperti saat ini.


Malam yang dingin, dan saya masih berkutat dengan patah hati yang nyaris membuat saya mati. Apakah dia tidak berpikir tentang kemungkinan bahwa orang-orang lemah seperti saya akan mengakhiri hidup ? Apakah dia tidak sudi melarikan pikirannya pada kesimpulan yang akan merugikan dirinya? Mungkin saja. Saya mulai bergeser, menempatkan diri pada meja rias dengan kaca yang memantulkan diri saya. Di samping meja rias itu terdapat pigura dengan foto anak kecil yang jika boleh mengatakannya, dia sangat manis. Seketika memori kala itu muncul. Anak perempuan itu, berada di tengah-tengah orang yang begitu sangat mengasihinya. Meskipun di antara mereka tidak peduli, intimidatif, dan terkadang berlaku kasar. Pada potret foto itu, masih ada terdapat seberkas senyum meskipun sekarang saya yang telah berkunjung pada dimensi masa kecilnya, dia tidak sebahagia itu. Tapi memang dia setegar senyum yang ia tunjukkan.


Pagi tiba, bersamaan dengan suara jam weker yang bahkan masih berdering saat saya telah terbangun. Saya terduduk dan menginstal kembali apa yang telah terjadi sebelumnya. Namun saya hanya mengingat anak kecil di foto itu yang tersenyum. Saya tidak mengingat yang lain. Saya masih penasaran karena seharusnya saya mengingat sesuatu yang membuat saya kesal karena saat saya menuju kaca tempat rias saya berada dalam keadaan seperti habis menangis dan mata saya membengkak.


Tiba ketika saya membuka pintu rumah, saya melihat selembar kertas bertuliskan “ FORGIVE AND KEEP GOING, YOU DON’T HAVE TO STUCK EVEN YOU ARE FEELING HURT” . Belum sempat saya berpikir jauh, saya hanya menemukan seorang laki-laki yang tengah menyapu halaman rumahnya di seberang jalan.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started