Narasi Pendidikan dan Human Errors

source : stock.adobe.com

Pendidikan menjadi begitu sangat penting dalam kehidupan saat ini. Dalam segala aspek khusunya yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam dunia kerja, dunia instansial, dunia developing, sangat kodipenden terhadap pencapaian kualitas individu untuk dapat bernaung pada interior penggembangan diri terbaik melalui pendidikan. Seakan pendidikan mengakuisisi pada bidang-bidang yang dikehendaki manusia pada segala sektor yang ada. Dan memang demikian faktanya.


Di sekolah dasar khususnya terjadi banyak adaptasi kurikulum yang kerap kali mengalami pergantian. Kurikulum menjadi jubah pendidikan, di mana advansi, keterlibatan asesmen maksimum yang dimonitoring oleh negara dunia sebagai suatu indeks kemajuan bangsa, terletak pada bagaimana kurikulum itu dirancang, diimplementasikan kemudian hasil daripada kehendak pemberlakuan kurikulum tersebut. Sekolah dasar tentu memiliki tingkat kesulitannya sendiri dan bahkan jauh lebih sulit karena melibatkan siswa/i sebagai mitra yang masih perlu pengkondisian baik itu secara kebiasaan dari kultur yang berlaku, strategi dan juga pendekatan dan ritme yang terbentuk serta kohesi dengan relevansi apa yang didapatkan siswa/i melalui luaran kurikulum tersebut.


Seringkali dunia pendidikan menjadi sangat adaptif dan terkadang membingungkan di saat yang bersamaan. Banyak perubahan-perubahan yang dituntut dari adanya pendidikan adaptif atau pendidikan adaptif yang menuntut adanya perubahan-perubahan dari human yang ada dalam suatu bangsa ? Saya rasa ini semacam kasualitas dalam memahami movement pendidikan ke arah terorganisasi. Pendidikan adaptif ada karena adanya tuntutan-tuntutan dari orang-orang yang tidak pernah mentolelir sedikitpun hidupnya untuk mengagumi apa yang belum dapat dimaksimalkan dengan baik. Namun juga sangat ironis ketika pemikiran baru tersebut berusaha ditenggelamkan dengan budaya lama oleh orang-orang lama dan orang-orang baru yang anti perubahan dan tidak sedang mengandrungi diri menjadi reformis baik hati.


Senantiasa pada abad sekarang ini, seseorang masih terbelenggu pada sarang yang sebenarnya telah tidak mampu lagi dijadikan tempat tinggal. Namun entah karena daya aforisme dari mana, mereka sebagian besar masih kerap kali tanpa malu melakukan indoktrinasi untuk menghambat terjadinya kemajuan. Fenomena human error dari dalam pendidikan menjadi kanker di dalam tubuh yang apabila tidak lekas mendapatkan penanganan akan menjadi ganas dan akhirnya membunuh tubuh tersebut. Refleksi pendidikan seolah mengingatkan saya pada sebuah film tentang wabah zombie yang menyerang penduduk Amerika. Kemunduran dan kegagalan bernalar ada pada terus mengkawini komitmen bahwasanya menjadi orang sakit akan jauh lebih mudah memanjangkan umur dan menghindari dimakan mayat hidup dibandingkan dengan berkamuflase seakan adalah orang yang sakit.


Ketakutan untuk mencoba hal-hal baru dalam pendidikan adalah salah. Dan bukan suatu rekomendasi sikap untuk setiap tenaga pendidik yang ada. Generasi yang ada saat ini, terutama mereka yang sedang duduk di bangku sekolah dasar adalah abilitas yang sangat rentan. Mereka kerap kali harus diuji dan menjadi sample dari teori yang kurang sempurna serta ego yang terus dijejalkan. Terkadang mereka adalah produksi dari alat-alat dapur yang ditempa dan bengkok serta dipaksa lurus dengan tempaan yang sedemikian tidak manusiawinya. Pendidikan saat ini adalah pendidikan humanistik bukan lagi pendidikan yang berawatak kolonialistik dan egosentris. Pendidikan yang senantiasa mengutamakan sikap plegmatis.


Pendidikan sudah sepatunya menjadi koreksi akan kefatalan dalam tindakan kemiskinan, kejahatan, kriminalitas. Pendidikan utamanya di sekolah-sekolah dasar perlu menengok kembali apa yang dibutuhkan agar seseorang menjadi baik dalam karakter terlebih dahulu sebelum kepintaran menguasainya untuk menelan semua harta benda tanpa ada sisi kemanusian sama sekali. Dalam hal ini khususnya para tenaga pendidik tidak boleh menjadi ekor dari konstruksi melemahkan pendidikan. Maka tenaga pendidik harus juga mengikuti perkembangan yang ada serta meng-update dengan baik kemampuannya.


Kegiatan dalam penjumlahan 1 + 1 = 2 dan kegiatan 2 -1 + 1 = 2 tidak boleh menjadi hal yang salah. Namun bagaimana kesesuaian jawaban itu menjadi cara kia membelajarkan satu sama lain. Bahwa formula dari human error bukan lagi pada 2 x 2 = 4 namun juga berlaku 2 + 2 x 1 = 4 . Sehingga jika analisis dari seseorang adalah menyalahkan dan berorientasi pada tindakan melakukan down grading pada hal lainnya maka itu bernilai human error

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started