Understanding

Photo source : Pinterest

I don’t want to get left behind.

Kita tengah sama-sama menyaksikan bahwa dunia adalah pertunjukan seni drama. Namun tidak dapat melihat aksi yang dilakukan oleh bayangan diri sendiri di atas panggung sandiwara. Seorang tokoh yang banyak menelan pil pahit, hingga berharap pil itu menjadi manis. It was like braking up the wrong tree even I know it was also to be nip something in the bud. Hasilnya tidak akan jauh berbeda dari menunggu tanaman rumput akan berubah menjadi Bunga Juliet Rose. Sepertinya terlalu memaksakan.

Menjadi orang baik, di antara orang-orang yang sembrono sedikitnya selalu memberi tekanan. Sehingga tekanan-tekanan kecil itu menjadi semakin berarti. Menjadi orang waras di antara banyak kerumunan orang gila, sudah menjadikan situasi cukup untuk meneriakkan kewarasan seperti orang yang merebut drum oksigen dengan brutal. Tidak ada pelayan di hotel bintang 5 yang tidak tertekan meski dengan senyuman paling manis, dan juga mungkin lantunan suara paling lembut dan genit untuk menjamu barisan tamu terhormat. Mereka masih tetap mengukur berapa inchi rok yang akan menyelamatkan hidupnya, atau apakah dasi kupu-kupu itu nanti akan tetap bertahan setidaknya masih tepat di atas rompi hitam yang dikenakannya.

Sebaik apapun usaha yang kita lakukan untuk menyelamatkan hidup, tidak pernah berakhir sesuai dengan yang kita harapkan. Namun setidaknya kita telah berusaha untuk menjadi seorang pahlawan yang memang berjasa.

Kita tidak terbiasa hidup melawan arus, dan hanya mengikuti seseorang dibalik pengikat tanduk kita. Kita merasa telah melakukan hal-hal berarti, namun berusaha ditiadakan oleh apapun yang hidup disekitar termasuk ketidakberdayaan seekor plankton di pantai pun ikut melawan dan meronta untuk meminggirkan kita jauh ke tepian. Pahamkah akan situasi tersebut? Bahkan yang tadinya menutup mata dengan kain yang menggelap pun ikut berdebat perihal meja yang tidak bisa disalahkan kondisinya yang berantakan, atau bahkan ada di antara mereka menyalahkan meja yang tidak bernyawa untuk melakukan aksi memporak-porandakan tudung saji kosong yang dibuat seolah-olah penuh makanan ?

Sekarang mari berpindah pada daun kaktus yang ada di atas meja teras rumah saya yang sudah menunggu giliran untuk diundang dalam pembahasan kali ini. Bukankah kita sepakat bahwa daun kaktus adalah kebaikan yang tidak memiliki nama?

Maka jangan pernah untuk menganggap bahwa yang seringkali kita lakukan adalah suatu kebaikan, meskipun sebenarnya itu adalah perbuatan baik. Maka lakukanlah setidaknya segala sesuatu hal meski tidak bernama kebaikan. Melakukannya dengan penuh ketulusan, meskipun mungkin sesekali kita enggan menyebutnya sebagai ketulusan, setidaknya pahamilah bahwa kita telah melakukannya dengan sepenuh hati.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started