
Malam yang biasa saja. Segelas air lemon di malam hari untuk mengelabuhi segala macam bentuk perasaan yang sedang berlalu-lalang. Memaksakan saja bahwa ini adalah wajar. Sembari menghabiskan air lemon, adalah saat terbaik untuk menciptakan basa-basi tentang bus kota yang terus mengangkut dan menurunkan penumpang dengan sudut pandang pengemudinya dengan alur yang sudah dapat ditebak.
Semua kehidupan di dalam bus umum itu memiliki kepala yang memuat tujuan yang sama. Pengendaranya seperti disandera oleh tujuan yang seharusnya dikendalikan olehnya. Sedangkan para penumpang yang ada di dalamnya pun sudah menyerahkan kendalinya pada pengendara yang mana itu berarti segala yang ada di dalamnya adalah tersandera.
Semua tampak pengap. Dunia ini memiliki jutaan orang yang bergerak, berjalan, dan sudah barang pasti mereka hidup. Namun sebagian dari mereka dalam dirinya tidaklah ada kehidupan. Mungkin saja ini karena ulah pengendara bus kota. Oh iya, hampir saja Saya lupa memberitahu, bahwa Saya sudah menghabiskan setengah air lemon dalam cup styrofoam ala starbuck yang sedang populer itu. Entahlah Saya tidak begitu yakin untuk saat ini.
Namun Saya tidak ingin berlama-lama, Saya harus menghampiri kehidupan Saya pagi ini, memulainya sebagai orang yang mengalami stockholm, karena kehidupan ini mungkin tidak jauh-jauh dari bus kota, pengemudi tersandra, penumpang tersandera dan lainnya yang mana menjadi tersandera adalah sebuah kenikmatan dengan penyandra yang menyulap batasan menjadi jauh lebih menggiyurkan.
Hari ini seperti biasa, Saya membuang uang tanpa tujuan. Berharap kilometer pada alat pengukur jarak yang ada pada bus itu menjadi refleksi keberartian perjalanan yang buta arah. Namun sepertinya Saya hanya ingin berfoya-foya dengan tidak mampu bertindak dengan pikiran Saya sendiri.
Saya hanya sibuk memecahkan selembaran uang yang baru hari ini Saya ambil dari bank yang didapat dengan mempertaruhkan bahu saat bekerja di tempat lama. Memang itu adalah sebuah rutinitas dengan mengadaikan segala yang ada untuk dipertaruhkan dengan kotak yang berisi cek kosong. Sampai di sini, malam sudah berganti siang dengan awan yang mengepul di langit hitam, pertanda sebentar lagi langit akan memutahkan kesedihannya. Dan air lemon itu telah kandas tak tersisa sama sekali.
Saya bingung, mengapa jadi waktu yang mengatur kita ? Tidakkah sudah cukup ketakutan mengatur pikiran kita dan menjauhkan kita dari kewarasan? Sudah cukup, jangan terlalu berpikir karena sebentar lagi akan hujan dan yang Saya tahu, Saya sama sekali tidak mempersiapkan payung atau jas hujan untuk perjalanan yang membawa lelah entah ke mana tujuan akhirnya.
Baju putih yang telah disiapkan oleh ibu Saya pagi tadi, sudah basah kuyup dan sekarang tercetak gambar wajah James Hetfield, yang tengah menjadi pemandangan untuk orang-orang di sekitar yang nampaknya tengah menggunakan seragam luar yang sama.
Tepat Saya sekarang sedang berada dalam sebuah gedung dan sedang berharap cemas untuk sebuah peruntungan kali ini. Apakah sesuatu yang Saya tidak begitu antusias untuk mendapatkannya, justru hal itu akan menjadi daya tarik untuk justru berlari ke arah Saya ? Semoga saja.
Namun Saya sepertinya memang harus berhenti untuk terlalu percaya diri, dan juga lebih dapat memperkirakan tujuan yang hendak Saya datangi. Tidak mungkin Saya terus menggantungkan tujuan mengikuti ke mana kaki melangkah. Itu sangat tidak mungkin, karena Saya memiliki kepala, meski itu tengah tersandera.
Tidakkah Saya selalu melakukan hal bodoh dengan hidup mengikuti alur yang monoton, dengan sesekali terasa seperti terjungkal saat badan bus itu meliuk-liuk karena jalanan yang curam? Berandai-andai akan bebas dari kukungan yang amat sangat membuat gila dan menjadi seseorang yang terlahir kembali dengan keputusan-keputusan yang dibuat dengan menjadi orang yang waras untuk pertama kalinya pula dalam hidup.
Saya tidak pernah menyesali apa yang terlah terjadi dalam hidup Saya. Semua itu membentuk pikiran dan juga emosi yang meski itu masih sangat dangkal. Hingga sebagai seorang anak, Saya harus tersandera karena sebuah awal. Saya tahu, Saya mempelajari hidup ini seorang diri, tidak bergantung dengan apapun yang melekat pada diri Saya, bahkan batin seorang ayah atau pun ibu. Saya menunjuk diri untuk setiap kesalahan dan membenarkan tindakan yang salah yang dilakukan oleh orang lain (di luar diri Saya).
Hari berganti petang, ketika Saya kembali ke rumah, tampak Ibu Saya tertidur di ruang tamu. Wajahnya tampak lebih lelah dibandingan dengan perjalanan yang Saya lakukan hari ini. Mungkin memang harus seperti itu cara Saya memahaminya. Ia yang setiap pagi membuatkanku bacon and egg terbaik, dan setiap akhir pekannya membuatkan pie strawberry yang mana buahnya mengambil langsung dari kebun di belakang rumah yang mengagumkannya lagi ia juga yang telah menanam dan merawatnya.
Mungkin memang begitulah cara Saya memahaminya, Ia berhak atas tujuan hidup saya dan bagaimana saya menjalankannya. Tapi barangkali di pagi yang akan datang, cara itu tak akan lagi sesuai yang ia harapkan. Saya memiliki cara sendiri yang akan sebentar lagi akan Saya ambil dari tumpukkan di gudang belakang dan memutuskan untuk menggunakannya keesokan harinya. Mungkin begitulah caranya, cara yang sedikit lebih sehat.

Leave a comment