
Saya mengerti bahwa menjadi yang terbaik, tidak perlu dengan mereplika pencapaian orang lain yang nyaris sempurna. Tidak perlu menjadi semua wanita yang hidup di setiap era di mana kecantikan itu dinilai dari “sudut pandang umum”. Artinya kita tidak perlu menjadi seperti Lillian Rusell, Margaret Gorman, Daisy Fellowes, wanita-wanita dengan bahu bidang ala militer, Elizabeth Taylor, Jacqueline Kennedy Onassis, Christina Marie Evert, Naomi Campbell, ataupun saat kecantikan dengan standar bentuk tubuh itu pada akhirnya menjadi standar manusia yang plin-plan saat kembalinya bentuk tubuh yang paling dinikmati ketika seorang wanita perlu menjadi seperti Marilyn Monroe lagi. Menjadi terbaik bukan diukur dengan apa yang baru kita mulai upayakan dengan apa yang orang lain sudah dapatkan. Namun berusaha membandingkan diri kita sekarang dengan diri kita sehari sebelumnya, dua hari sebelumnya, tiga hari sebelumnya, atau diri kita pada kondisi satu pekan lalu. Mungkin sekarang ini kita sudah sangat sedikit untuk meminum alkohol dari satu atau dua pekan yang lalu meskipun atas sebab bahwa seseorang harus menimbang mana yang lebih prioritas untuk dibelanjakan saat akhir bulan. Atau juga berarti tidak perlu membandingkannya dengan apapun termasuk diri sendiri, karena menjadi yang terbaik berarti adalah berjalan maju dan bukan impulsivitas untuk mengobrak-abrik susunan kotak yang acak di masa lalu.
Sebagai perempuan ada banyak hal dilematis yang terus saya rasakan. Di mana, sebenarnya saya tidak dituntut terlalu banyak untuk menelurkan pencapaian, prestasi, penghasilan. Saya sebagai perempuan yang hidup di lingkungan close minded hanya dituntut sebagai perempuan dengan pengertian konservatif garis keras; asalkan saya dapat memastikan lipstik saya berwarna merah sempurna dan mengurai dengan rata polesan di wajah berarti saya sudah menjadi wanita, meski belum menjadi wanita dengan predikat yang “nyaris sempurna”. Terlebih hal yang seketika membuat diri merelakan untuk menjadi seseorang yang tuli adalah kalimat bahwasanya, keberhasilan dan kesuksesan perempuan terletak pada laki-laki yang kelak akan menikah dengannya. Sama sekali tidak ada potensi wanita yang diperhitungkan sekalipun mereka memilikinya. Perempuan itu tergantung untuk segala hal tanpa kecuali dengan laki-laki. Narasi itu yang seolah di-framing sedemikian rupa.
Zaman sudah berubah, wanita harus berpikir progresif, tidak bisa mengikuti cara pandang dogmatis seperti itu. Wanita berhak memiliki pilihan atas hidupnya, memiliki otoritas penuh akan apa yang menjadi bagian dirinya, dan wanita berhak atas segala keputusan tanpa rasa takut akan intervensi pihak lainnya termasuk dari lingkungan terdekatnya sekalipun yang masih saja berpikir ke belakang. Perempuan telah membuat pengorbanan yang sangat panjang. Maka mereka layak menjemput kemerdekaannya yakni kebebasan menentukan nasibnya sendiri. Tetapi saat perempuan berusaha mencapai kesetaraan itu, seakan rute-rute panjang kembali diputar dalam memori perjalanan sejarah perempuan untuk duduk setidaknya pada posisi yang sedikit lebih baik seolah hanya ditampilkan hantu dari bayangan masa lalunya. Hal yang sangat jahat adalah ketika orang-orang terdekat yang justru memberi sekat akan keberkembangan dan naluri-naluri serta pemikiran yang kian maju untuk tumbuh menjadi versi terbaik diri perempuan-perempuan yang ingin merasakan hidup tanpa takut menjadi dirinya dan dengan pilihannya.
Saya heran, betapa mudah perempuan satu dengan perempuan lainnya bersaing untuk membuat diri yang lainnya jatuh. Saya heran betapa lemah peran orang-orang di sekitar terhadap dukungannya untuk kerabat dekatnya sendiri yang seorang perempuan, berjuang memerangki stereotype yang tidak sehat. Saya bingung kejadian tidak ideal seperti apa yang akan membuat mereka saling menguatkan dan memberi dukungan, tanpa melakukan pembiaran. Jika saja bukan perempuan yang melahirkan dan jika saja bukan perempuan yang menyusui, dan jika saja bukan perempuan yang bertaruh nyawa setidaknya kita bisa mempertimbangkan saat seorang perempuan melakukan persalinan, adalah hal yang bisa dilihat sebagai perjuangan yang sudah sepatutnya tidak dinilai sebagai kodrat saja, namun perjuangan yang berdarah-darah, mungkin ibarat lilin, perempuan hanyalah fragmen yang setelah sinar terangnya dimanfaatkan, tetesannya menjadi beku dan akhirnya dihancurkan tanpa sisa. Tidakkah setiap orang yang berhasil lahir di muka bumi ini menyadari , bahwa itu tidak akan pernah sebanding dengan apapun?
Jika dahulu dibiarkan melekat dengan ketidakberdayaan yang lebih dari apa yang seharusnya memang dipatok untuk dilakukan, maka sekarang mereka rapuh karena sibuk untuk dituntut menjadi apa yang seseorang inginkan. Sibuk menjadi objek . Tidakkah objek adalah pilihan kata yang tidak akan pernah menjadi lebih baik maknanya dari sisi manapun terkait dengan harga diri manusia? Memang apa yang berbeda dari perempuan dengan laki-laki perihal menentukan pilihan hidupnya? Saya berpikir seribu kali untuk itu dan masih belum menemukan jawabannya. Mungkin jika jawaban itu telah saya temukan, adalah kemungkinan bahwa saya telah lupa daratan dan barangkali perjalanan yang membawa saya pada lawan bicara yang salah.

Leave a comment