TO THE MAN THAT I LOVE THE MOST : DON’T HATE ME TOO MUCH

sources:pinterest

Salah satu hal yang menyakitkan adalah kehilangan diri Anda sendiri di dalam suatu proses mencintai orang lain dengan teramat sangat, hingga Anda melupakan bahwa Anda juga seseorang yang istimewa” –Ernest Hemingway.

Aku sedang menuliskan kalimat yang sepadan dengan pernyataan di atas :  

Bukankah kalimat itu sangat indah dan ironi? Setidaknya untuk diingat menjelang tidur, mengusir ke-akan-nan mimpi yang jauh lebih buruk. Ketika kamu memiliki itikad baik untuk meletakkan karpet di ruang tamu, dan berharap orang lain akan menghargai itikad baikmu untuk setidaknya berjalan memutari karpet itu hanya untuk memastikan bahwa karpet itu adalah tempatmu meletakkan harga diri dan cinta kasih sehingga menginjaknya menjadi akan sangat menghinamu? Apakah ada orang yang akan berpikir tidak se-normal itu, pada pesta pada umumnya? Mungkin saja, tapi aku yakin itu tidak mudah terjadi.

Saat Kamu berpikir bahwa orang lain akan menghargai apa yang Kamu sedang rasakan terhadapnya, apakah seketika itu juga hal yang paling nyata dalam bayanganmu adalah kemungkinan ia membencimu, ketika ia tidak dapat merasakan hal apapun saat berhadap-hadapan? Aku pun bisa mencuri dengar dari pikiran bising di kepalanya “sepertinya” itu bukan benci melainkan rasa ketergangguan. Mungkin juga baginya adalah terlalu awal untuk meletakkan perasaan se-dahsyat itu (membenci). Setidaknya dirimu masih diberikan kesempatan untuk menjadi bersikap lebih menjengkelkan dan mengusik.

Tidak bisa ku bayangan, bagaimana bayanganku memilih tinggal dalam ruangan yang gelap. Bagaimana dengan berterus-terang ia mengatakan bahwa tidak perlu ada kehidupan untuknya. Mungkin aku memang pernah sangat membenci diriku sendiri, saat aku tidak bisa berbuat sesuatu yang lebih baik untuk mendapatkan perhatian dari seseorang yang terus menganggu pikiranku, namun telah berhasil mencuri hatiku. Yang banyak melakukan hal tidak sopan tentunya padaku dan meniadakan tindakan baik yang aku telah lakukan. Namun sepertinya bayanganku bertindak lebih gila. Persis saat ini aku sedang menimbang-timbang kembali, apakah yang ia ingin kembali lakukan adalah perlakuan yang sama? Membunuhku dalam pikirannya? Tidakkah aku bisa menganggapnya itu adalah sebuah kejahatan yang ia rencanakan? Tentu menurutnya membunuh orang yang nyaris menganggunya dalam dua tahun terakhir bukanlah hal jahat, melainkan tindakan melindungi diri, dan tidak akan ada yang menghukumnya, mungkin juga termasuk Tuhan dan hukum alam-Nya yang justru akan berkerja sama untuk menghukumku, dengan cara membuatku tersadar.

Aku tidak yakin jika perasaan yang sedang berlangsung saat ini, bisa terhenti. Bahkan ketika aku dengan sengaja membuatnya berhenti. Justru ketika aku berusaha menghentikannya, ia membalasku dengan getaran yang semakin kencang dari sebelumnya. Mungkin jika aku sudah hilang akal, aku akan terus mengutuk tentang perasaan itu dan mencelanya yang sudah salah tempat. Namun aku tidak pernah diberikan kesempatan untuk memperdebatkan tentang perasaan yang datang itu dari pengirimnya langsung. Tidak ada meja budar yang terlihat lebih demokratis di antara jarakku dengannya, sehingga rasanya itu hampir tidak mungkin ada hal yang memperantarai.

Kali ini, aku tengah memandangi telephone yang aku letakkan di atas nakas di samping tempat tidurku. Tadi malam aku mengiriminya pesan. Tentu bukan pesan bernada ancaman, karena aku tidak sefrustrasi itu atas gestur penolakan yang ia tunjukkan dengan melayangkan hal-hal yang aku pikir itu akan menghadirkan backlash dalam hidupku. Seperti biasanya ia membalas itu di hari esok. Entah rutinitas apa yang ia lakukan, setidaknya dari yang aku dengar dia cukup taat dan aku dengan kegiatan sedang menunggunya membalas. Aku tahu aku tidak akan mendapat balasan yang lebih baik, meskipun aku tahu ia mampu melakukakannya. Entahlah, aku juga tidak paham dengan sikapnya yang memberiku izin untuk membuka pintu rumahnya, lalu ia hanya mendiamiku sepanjang aku bertamu ke rumahnya. Tidakkah ia berpikir bahwa terkadang itu menjadi sangat manipulatif. “This man doesn’t push me away, but also don’t keep me either” jika aku boleh sedikit percaya diri untuk mengatakannya. Tapi apa yang aku lakukan adalah tidak pernah menjatuhkannya di hadapan perasaanku sendiri, bahkan justru ego yang diam-diam aku habisi sebagai gantinya.

Ia tidak pernah melihat pengorbanan apapun. Bahkan ketika aku menunggu lama hanya untuk mengetahui bahwa ia akan memilih Eminem dibanding Snoop Dogg, atau menunggunya berjam-jam hanya untuk menggunakan dua menit untuk berbicara. Setiap kali aku hanya menjadi seorang Human Resources ketika berusaha menunjukkan perhatian, dan menyemangati diriku sendiri atas setiap duka yang kurasakan seakan memang harus kutelan sendiri. Ia bahkan sangat kaku dalam ikut merasakan kesedihan orang lain yang baru saja merasa kehilangan. Mungkin ia juga pernah merasakan kehilangan pada kedalaman yang jauh tidak bisa kubayangkan, tapi itu tidak membuatnya lebih pintar memahami kehilangan orang lain. Aku tahu apa yang kulakukan ini akan seperti aku bertindak kejam, seperti tengah menghabisi karakternya. Tapi apapun yang sedang aku lakukan saat ini, kalian mengerti bahwa aku sedang kesal, dan aku sangat mencintainya bahkan aku menunggunya untuk melakukan kekesalan yang sama.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started